Peduli Kebudayaan untuk Korban Gempa Aceh

Peduli Kebudayaan untuk Korban Gempa Aceh

Peduli Kebudayaan untuk Korban Gempa Aceh

Peduli Kebudayaan untuk Korban Gempa Aceh

Pidie Jaya, Kemendikbud — Akhir tahun 2016, Direktorat Jenderal Kebudayaan,

Kementerian Pendidikan Kebudayaan menggelar kegiatan Peduli Kebudayaan, yang ditutup dengan gerakan Kebudayaan Peduli. Kegiatan tersebut merupakan sebuah respons sosial atas bencana gempa bumi yang menimpa Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.
Ide awal gerakan sosial ini berawal dari ide para peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (BPNB Aceh) untuk berbuat sesuatu yang bisa meringankan anak-anak korban bencana gempa bumi di Aceh. Kemudian muncul ide untuk membuat kegiatan sejenis trauma healing atau pemulihan dari trauma.

Kegiatan yang awalnya hanya akan menggelar Bioskop Keliling dan Permainan Anak Tradisional,

bertambah dengan kegiatan Bantuan Sosial (pakaian sekolah, perlengkapan sekolah, kain sarung, mukena, sajadah, tenda, selimut, beras dan bahan makanan lainnya), kegiatan mendongeng, Hiem (bermain teka-teki), melukis bersama, dan acara kenduri Maulid Nabi. Ide awal yang sederhana itu kemudian berubah menjadi kegiatan sosial yang luar biasa.
Seorang seniman Aceh, Bang Jamal, diundang untuk menghibur anak-anak korban gempa dengan berdongeng. Lalu kegiatan Bantuan Sosial dilaksanakan di dua kampung yang paling parah terkena dampak gempa bumi, yakni Kampung Jiem-Jiem dan Kampung Cubo. Khusus kegiatan trauma healing, hanya diadakan di Kampung Jiem-Jiem karena anak-anak yang terkena dampak gempa lebih banyak terdapat di kampung ini.

Kemudian pada saat acara kenduri Maulid Nabi, Kemendikbud

bersama seluruh masyarakat Kampung Jiem-Jiem makan bersama hidangan gulai kari sapi dan kuah sapi yang merupakan masakan khas dari Pidie Jaya. Anak-anak dan para korban gempa Aceh lainnya tampak sangat senang dan menikmati hidangan yang tersedia, setelah selama dua minggu sebelumnya mereka hanya mengkonsumsi mie instan dan telur. Dalam acara itu, anak-anak juga menyenandungkan shalawat.

Untuk permainan anak tradisional, anak-anak tampak gembira bermain egrang. Rasa senang dan gembira, serta semangat yang dirasakan oleh anak-anak korban gempa tidak dapat disembunyikan. Semangat itu pula yang tertuang pada tema Kebudayaan Peduli yaitu: “Krue Seumangat, ta Jak Meu’en Jeut Seunang Hatee” yang artinya, Tetap Semangat, Ayo Bermain Biar Hati Senang. (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

https://www.ayoksinau.com/

Usman

    Comments are closed.