Demokrasi Langsung Utamakan Kepentingan Bangsa

Demokrasi Langsung Utamakan Kepentingan Bangsa

Demokrasi Langsung Utamakan Kepentingan Bangsa

Demokrasi Langsung Utamakan Kepentingan Bangsa

Demokrasi Langsung Utamakan Kepentingan Bangsa

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

Ahmad Basarah, mengatakan, demokrasi langsung di Indonesia semestinya tetap mengedepankan hikmat dan kebijaksanaan, serta mengutamakan kepentingan bangsa.

“Demokrasi langsung sekarang ini, sarana memilih calon pemimpin bangsa baik eksekutif maupun legislatif. Pelaksanaannya harus tetap dibimbing perasaan hikmat dan kebijaksanaan. Kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan di atas kepentingan golongan dan kelompok,” kata Basarah saat memberikan ceramah kebangsaan di Kantor DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Jakarta, Sabtu (1/6/2019).

Ketua Umum (Ketum) Persatuan Alumni GMNI ini menambahkan, demokrasi langsung Pemilu 2019, ternyata merobek eksistensi dan falsafah dasar negara. “Demokrasi kita dipimpin oleh amarah, emosi, fitnah, hoaks, adu domba dan lain sebagainya,” tukas Basarah.

Basarah menuturkan

Situasi kebangsaan seperti sekarang, pernah terjadi tatkala awal Sukarno memimpin Indonesia. Kala itu, tokoh-tokoh bangsa saling berselisih paham. Akhirnya, lanjut Basarah, Sukarno mengundang Kiai Wahab Hasbullah untuk meminta nasihat. Kiai Wahab, mengusulkan Sukarno agar memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk mengundang tokoh-tokoh bangsa.

“Kiai Wahab usulkan istilah silaturahmi diganti dengan halal bi halal. Idul Fitri tahun 1948 untuk pertama kali pemerintahan RI selenggarakan tradisi umat Islam Indonesia yang tidak ada di Mesir, Pakistan, Yaman, yaitu peringatan Idul Fitri yang dibarengi halal bi halal,” ungkap Basarah.

Tujuan halal bi halal saat itu, masih kata Basarah, supaya para pemimpin bangsa bertemu. Mereka yang berselisih paham karena politik, ideologi, mengesampingkan perbedaan.

Kita harap Idul Fitri nanti

Para pemimpin bangsa yang sekarang belum bertemu, bisa bertemu untuk saling memaafkan. Kita ingin pemimpin bangsa menjadi perekat, bukan provokator,” tegas Basarah.

Pada kesempatan itu, Basarah mengajak seluruh pihak untuk menjaga warisan pendiri bangsa. “Nikmat Allah apalagi yang tidak kita syukuri. Kita hidup di negara Indonesia yang 5.000 kilometer persegi luasnya. Penduduknya 260 juta. Ada 773 bahasa. Semua bisa disatukan dalam Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) tersebut.

Sumber:  https://pelajaranips.co.id/

Usman

    Comments are closed.