Dari hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut

Dari hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut

Dari hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut

Dari hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut

1. Ibu Suparmi
Seorang subyek yang menekuni bisnis atau usaha semanggi ini baru menggeluti usahanya sekitar 5 tahun. Usaha ini pun diperoleh dari peninggalan ibu mertua subyek. Subyek dengan senang hati melanjutkan usaha ini. Dengan memiliki kurang lebih 10-12 pekerja/penjual semanggi keliling subyek dapat menghidupi keluarganya. Dengan tekad yang kuat tetap menjalankan usahanya meskipun berulang kali mendapatkan pasang surut penghasilan. Dengan kebanggaan dan kecintaan terhadap kota kelahiranya membuat subyek membantu pemerintah kota dengan menjaga dan melestarikan makanan tradisional ini sebagai budaya lokal yang diprotektif agar tidak hilang seketika. Meskipun dengan keberhasilannya dari segi materi namun tetapi yang lebih membuat rasa puas dan bangga secara lebih dan tidak ternilai oleh materi adalah kebanggannya menjaga semanggi sebagai budaya lokal yang pada saat ini masih hidup di tengah persaingan makanan-makanan tradisional.
2. Ibu Ati
Subyek yang telah berusia lebih dari separuh abad ini tetap loyal dengan mata pencahariannya ini meskipun penghasilan yang didapatnya tidak menentu. Bekerja sebagai penjual semanggi keliling selama 20 tahun ini semakin membuat subyek bersemangat untuk terus melestarikan dan mengembangkan/ mengenalkan semanggi kepada generasi muda. Pada generasi muda sekarang ini banyak disuguhi makanan-makanan modern dan cenderung untuk melupakan makanan tradisonal ini padahal makanan tradisional ini merupakan sebuah ikon dari masyarakat Kota Surabaya. Subyek berjualan secara berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Biasanya subyek berangkat dari rumah dengan naik angkutan umum dan sesampai pada tempat biasa subyek bekerja sering melanjutkan dengan berjalan kaki mengelilingi kampung-kampung yang ada di sekitar jalan Diponegoro dan juga sekitar jalan Genteng. Subyek menjual satu porsi semanggi ini dengan harga yang sangat terjangkau yaitu dengan harga Rp.3.500- Rp. 4.000. meskipun pada jaman sekarang lebih sulit untuk menjual semanggi karena harus bersaing dengan makanan-makanan moderen yang lain tetapi subyek tetap berusaha menyuguhkan semanggi di era yang modernisasi ini.
3. Ibu Mujeni (47 tahun) penjual semanggi keliling
Subyek merupakan warga asli Kendung namun pindah ke wilayah Petemon Timur agar lebih dekat dengan tempat subyek berjualan semanggi. Subyek telah lama berjualan semanggi secara keliling yakni hampir 25 tahun lebih. Hampir seluruh keluarganya bekerja sebagai penjual semanggi keliling. Berjualan semanggi merupakan suatu tradisi dalam keluarganya. Bahkan jika salah satu anggota keluarganya ada yang menolak untuk berjualan semanggi utamanya perempuan maka orang tersebut akan dikucilkan oleh keluarga. Subyek mendapatkan semanggi dari juragannya sedang untuk bumbu-bumbunya subyek membelinya sendiri dan mengolahnya sendiri. Proses pengolahan bumbu-bumbunya menggunakan resep keluarga yang orang lain tidak diperkenankan untuk melihat proses pengolahan lebih lanjut. Subyek sangat bangga berjualan semanggi sebab di satu sisi subyek mendapatkan materi namun di sisi lain juga mendapatkan sisi kepuasan dalam hal non materi sebab dengan menjual semanggi berarti subyek melestarikan tradisi keluarga dan juga menjaga sebuah budaya dalam hal in i makanan tradisional agar tidak punah.
Hampir semua pedagang Semanggi gendongan ini menawarkan harga Semanggi yang relatif terjangkau, dengan rasa yang cukup nikmat. Untuk penyajiannya seperti pada umumnya, namun seporsi sayur Semanggi ditambah sayuran kangkung atau daun lembayung (daun ubi), lalu sambal dan krupuk puli lebar. Menurut salah satu penjual semanggi yang ada di kawasan petemon bagi mereka yang tidak berjualan semanggi sedang sanak saudaranya semua berjualan semanggi mereka akan mendapatkan sindiran-sindiran dari keluarga maupun tetangga-tetangga mereka yang ada di Benowo. Semanggi sendiri didapat oleh para penjual dengan membeli tanaman tersebut ke para pembudidaya tanaman semanggi tersebut. Sebagian lainnya mereka mencoba menanamnya di beberapa petak sawah berukuran kecil yang letaknya di belakang rumah. Namun jumlah penjual semanggi juga semakin menurun. Banyak penjual semanggi yang beralih profesi karena usaha ini tidak menguntungkan. Semanggi kebanyakan diproduksi dan dijual oleh warga dari daerah Benowo, Surabaya.
    Hampir setiap ada event atau acara kuliner yang diadakan di Surabaya semanggi selalu dapat dijumpai diantara banyaknya makanan yang lainnya. Meski dihadapkan dengan banyaknya pilihan makanan yang ada atau yang dijajakan pada saat acara kuliner tersebut masyarakat juga tidak lupa untuk menikmati sepincuk semanggi dengan krupuk pulinya tersebut. Apalagi pada saat acara menyambut hari ulang tahun Surabaya setiap tanggal 31 mei, pemerintah kota selalu mengadakan festival makan gratis yang dilakukan selama dua hari. Pemerintah kota menunjuk beberapa titik tempat untuk menjadi penyelenggara acara tersebut. Hal ini diharapkan bahwa masyarakat tetap mengenal dan melestarikan makanan-makanan khas dari Surabaya. Hal ini juga disambut dengan baik oleh para penjual makanan tradisional kota Surabaya selain mendatangkan penghasilan yang lebih mereka juga dapat menunjukkan eksistensi dari makanan tradisional khas Surabaya. Sekarang semanggi pun bukan dimiliki oleh warga Surabaya tetapi dimiliki oleh warga Jawa Timur.
Bagi sebagian orang Surabaya, pecel semanggi adalah makanan yang bikin orang teringat selalu. Selain susah untuk membelinya, panganan ini mempunyai rasa dedaunan yang khas. Kalau sedang beruntung, mungkin siapa saja bisa menjumpai pedagang yang rata-rata wanita berusia uzur itu di pinggir jalan atau sudut gang. Selain dapat membeli semanggi dari penjual semanggi keliling, semanggi juga dapat ditemukan atau diperjualkan di beberapa tempat seperti:
a. Pujasera Galaxy Mall
b. Cafesera, jln. Polisi Istimewa
c. Di Hotel Surabaya Plaza. Dengan membidik kalangan menengah, sajian Semanggi di hotel ini laris juga dipesan tamu. Tidak hanya para tamu yang menginap di hotel saja yang bisa menikmati, tapi dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menikmati Semanggi. Untuk menikmati Semanggi ditawarkan seharga 10.000 rupiah per porsi.
d. Di gerai tempat makan STS (Semanggi Top Surabaya). STS memang belum membuka kedai sendiri. Hampir selama 13 tahun ini, STS berjualan di Rumah Makan Antariksa di Jl Diponegoro aktivitasnya sebagai peserta di Festival Jajanan Bango 2008 lalu di Surabaya.
Usman

    Comments are closed.