Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Perencanaan

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Perencanaan

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Perencanaan

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Perencanaan

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan (plan) beberapa bagian penting yang perlu didokumentasikan adalah kegiatan sebagai berikut: (1). prasurvei yang

 

dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang terdapat di suatu kelas yang akan diteliti. Bagi pengajar yang bermaksud melakukan perbaikan di kelas yang menjadi tanggung jawabnya tidak perlu melakukan prasurvai karena berdasarkan pengalamannya selama dia di depan kelas sudah secara cermat dan pasti mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapinya, baik yang berkaitan dengan kemajuan siswa, sarana pengajaran maupun sikap siswanya. Dengan demikian para guru yang sudah akan mengetahui kondisi kelas yang sebenarnya.(2). Diagnosis

 

yang dilakukan oleh guru lain yang tidak terbiasa mengajar di kelas yang dijadikan sasaran kegiatan. Mereka perlu melakukan diagnosis atau dugaan – dugaan sementara mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam satu kelas. Dengan diperolehnya hasil diagnosis, akan dapat ditentukan berbagai hal, misalnya strategi pengajaran, media pengajaran, dan materi pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan implementasinya lesson study. (3) Perencanaan kegiatan, dalam penentuan perencanaan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu perencanaan

 

umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait dengan lesson study. Sementara itu, perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari tahapn kegiatan ke tahapan berikutnya. Oleh karena itu dalam perencanaan khusus ini tiap kali dapat dilakukan perencanan ulang (replanning). Hal–hal yang direncanakan di antaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran, dan sebagainya. Perencanaan dalam hal ini kurang lebih hampir sama dengan apabila kita menyiapkan suatu kegiatan belajar – mengajar. 

 

 

 

Bagi seorang guru tahapan perencanaan ini penting dalam upayanya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih professional, guru dituntut keberaniannya untuk mengatakan secara jujur khususnya kepada dirinya sendiri mengenai sisi – sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang dikelolanya . dengan kata lain guru garus mampu merefleksi, merenung, serta berpikir balik, mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi sisi –sisi lemah yang mungkin ada. Dalam proses perenungan ini terbuka peluang bagi guru untuk menemukan kelemahan – kelemahan praktek pembelajaran yang selama ini selalu dilakukan secara tanpa disadari. Oleh karena itu untuk memanfaatkan secara maksimala potensi lesson study bagi perbaikan proses pembelajaran, guru perlu memulainya sedini mungkin merasakan adanya persoalan – persoalan dalam proses pembelajaran.

 

 

 

Dengan kata lain permasalahan yang diangkat dalam lesson study harus benar–benar merupakan masalah–masalah yang dihayati oleh guru dalam praktek pembelajaran yang dikelolanya, bukan permasalahan yang disarankan apalagi ditentukan oleh pihak luar. Permasalahan tersebut dapat berangkat bersumber dari siswa, guru, bahan ajar, kurikulum, interaksi pembelajaran, dan hasil belajar siswa.

Baca Juga :

fungsi dari pembuatan film dokumentasi

fungsi dari pembuatan film dokumentasi

fungsi dari pembuatan film dokumentasi

Dengan demikian maka beberapa fungsi dari pembuatan film dokumentasi ini adalah:

  • Akuntabilitas kegiatan

Dengan adanya rekaman yang menunjukkan berlangsungnya pembelajaran nyata (real teaching) maka ada pertanggungjawaban penuh bahwa program benar-benar telak terlaksana, sehingga, media ini bisa menjadi alat untuk permasalahan akuntabilitas.

  • Sebagai alat verifikasi

Dengan terdokumentasinya apa yang berlangsung selama kegiatan pembelajaran, maka secara tidak langsung media ini akan menjadi alat verifikasi yang efektif. Di kemudian hari tidak ada lagi alasan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan rancangan yang telah ditetapkan sebelumnya.

  • Sebagai alat kontrol dan evaluasi

Metode ini juga bisa dipakai sebagai alat kontrol pada kegiatan yang sedang berlangsung; sesuai tidaknya kegiatan dengan rencana. Selain itu metode ini juga bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu evaluasi kegiatan secara keseluruhan.

 

Konsekuensi-konsekuensi itu tentu mengandung perubahan dari proses pembelajaran sebelumnya, tetapi perubahan yang ditujukan untuk perbaikan. Perbaikan tersebut tidak akan terjadi apabila ia tidak sadar atau tanggap akan standar profesinya sendiri. Lesson study adalah suatu instrumen yang digunakan dengan penuh kemampuan oleh guru yang baik untuk meningkatkan mutu mengajarnya.

 

Namun, salah satu dari tantangan terhadap lesson study adalah bahwa memperbaiki mutu mengajar adalah hal yang harus senantiasa dilakukan oleh guru yang baik; ia harus terus-menerus sadar mengenai praktek di kelasnya dan berusaha untuk memperbaiki praktek tersebut. Orang-orang yang skeptis terhadap lesson study menyatakan bahwa ini hanya kegiatan mengajar yang baik. Untuk itu sebaiknya lesson study tidak berhenti di situ, sehingga ia merupakan cara untuk menghidupkan situasi belajar-mengajar. Lesson study bukan sekedar mengajar.Lesson study mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan mengajar. Lesson study mendorong para guru untuk berani bertindak dan berfikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional

bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Sumber : https://cialis.id/

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Post Class Discusion

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Post Class Discusion

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Post Class Discusion

Fokus Pengambilan Gambar Pada Tahap Post Class Discusion

Setelah tahap implementasi selesai dilaksanakan tahap ketiga post-class discussion (see) atau kegiatan pasca-pelajaran biasanya disebut juga dengan istilah refleksi. Pada prinsipnya yang dimaksud dengan istilah refleksi ialah upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait denga suatu lesson study yang dilaksanakan.Refleksi ini dilakukan dengan kolaboratif, yaitu adanya diskusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian refleksi dapat ditentukan sesudah adanya implementasi tindakan dan hasil

observasi. Berdasarkan refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan (replanning) selanjutnya ditentukan. Fokus utama dalam tahap ini adalah menganalisis “bagaimana siswa belajar”. Hal terpenting yang bagi peserta lesson study adalah mengambil makna apa yang bisa dipelajari dengan dari tampilan tersebut dengan kata lain siswa bisa “belajar apa” dari penampilan guru model tersebut. Refleksi dilakukan setelah pembelajaran berakhir denan maksud apa yang telah dipelajari observer dari pembelajaran tersebut dapat dikarifikasi dan diketahui. Bahan yang digunakan untuk refleksi adalah catatan yang dimiliki observer dan hasil rekaman tim dokumentasi yang dapat diputar ulang untuk kejadian yang menarik perhatian.

 

Lesson Study : Fungsi Film Dokumentasi 

Terkait dengan upaya mengamati situasi pembelajaran, maka salah satu bagian yang penting dalam lesson study adalah pengumpulan bukti (gather evidance) dari proses belajar mengajar yang dapat digunakan sebagai bahan analisis, evaluasi dan refleksi. Agar bagian ini lebih optimal maka diperlukan pengamatan secara intensif, maka penggunaan film dokumentasi sangat membantu. Film ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk umpan balik (feed back) bagi guru dengan melihat pembelajaran yang sudah dilalui nya dengan demikian setidaknya sudah dapat ditarik kesimpulan (walaupun sifatnya tidak baku dan masih bisa berkembang di masa-masa yang akan datang) yang bisa dijadikan acuan untuk

perancangan kegiatan pembelajaran berikutnya.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

PENGERTIAN PENDERITAAN

PENGERTIAN PENDERITAAN

PENGERTIAN PENDERITAAN

PENGERTIAN PENDERITAAN

PENGERTIAN PENDERITAAN

Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat. Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.

Mengenai penderitaan yang dapat memberikan hikmah, contoh yang gamblang dapat dapat dicatat disini adalah tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme. Misalnya Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf Denmark, sebelum menjadi seorang filsuf besar, masa kecilnya penuh penderitaan. Penderitaan yang menimpanya, selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya. Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf eksistensial yang besar.

Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar.

Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.

Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar.

Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.

Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad. Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).

Baca Juga :

PENGERTIAN TENTANG PENGABDIAN

PENGERTIAN TENTANG PENGABDIAN

 

PENGERTIAN TENTANG PENGABDIAN

PENGERTIAN TENTANG PENGABDIAN

Manusia di dalam hidupnya selaku makhluk Tuhan selain dibebani tanggung jawab, mendapat hak dan juga mempunyai kewajiban, untuk melaksanakan hal-hal tersebut perlu pengabdian, bahkan pengorbanan.
Pengertian pengabdian menurut WJS. Poerwodarminto adalah perihal/hal-hal yang berhubungan dengan mengabdi. Sedangkan mengabdi adalah suatu penyerahan diri, biasanya dilakukan dengan ikhlas, bahkan diikuti pengorbanan. Dimana pengorbanan berarti suatu pemberian untuk menyatakan kebaktian, yang dapat berupa materi, perasaan, jiwa raga.
Hakekat pengabdian adalah merupakan usaha untuk memikul tanggung jawab dan melaksanakan kewajiban sebagai manusia. Jadi Pengertian Pengabdian dan Pengorbanan adalah:

Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, honnat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.

Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehinggaa pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.
Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jclas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya. Tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman.
Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.

Contoh Pengabdian :
Kesediaan seorang guru sekolah dasar ditempatkan di pelosok terpencil daerah
transmigrasi, adalah pengabdian yang juga menuntut pengorbanan. Dikatakan pengabdian karena ia mengajar di situ tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat / bangsanya. la hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat. Pengorbanan yang ia berikan berupa tenaga, pikiran, waktu untuk kepentingan anak didiknya.

Sumber : https://bingo.co.id/

HAK DAN KEWAJIBAN

HAK DAN KEWAJIBAN

a. pengertian hak
Menurut Austin Fagothey, hak adalah wewenang moral untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu.
Hak merupakan panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantaraan akalnya, perlawanan dengan kekuasaan atau keuatan fisik.
Adanya hak adalah karena kewajiban kita mencapai tujuan akhir dengan hidup sesuai dengan hukum moral. Untuk menjalankan kewajiban tersebut diperlukan adanya kebebasan manusia untuk memilih alat-alat yang dibutuhkannya dengan tidak mendapat rintangan dari orang lain. Dengan demikian manusia harus mempunyai hak-hak.

b. hak-hak asasi (hak-hak alam)
Dengan adanya hukum alam diletakkan kewajiban-kewajiban, oleh karena itu manusia harus mempunyai kekuasaan moral untuk memenuhinya dan untuk mencegah orang lain yang hendak menghalang-halangi pelaksanaannya.

ciri pokok hakikat HAM yaitu:
HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003).

c. Hak dan kekuasaan
Jika bidang hak dipisahkan dari bidang moral, maka hak hanya dapat berpegang pada kekuasaan fisik. Dengan demikian kekuasaan fisik juga disamakan dengan hak. Tetapi hak dan kekuasaan itu tidak sama, karena dapat dipisahkan. Juga wewenang moral belum merupakan kekuasaan fisik. Justru hak adalah pelindung tentang kekuasaan yang sewenang-wenang.
Hak-hak yuridis merupakan hak penuntutan. Hak-hak yuridis berhubungan dengan benda-benda atau perbuatan-perbuatan lahiriah dan berasal dari keadilan pertukaran atau keadilan hukum.

d. Pengertian kewajiban
Kewajiban dalam arti subyektif adalah keharusan moral untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Kewajiban dalam arti obyektif adalah sesuatu yang harus dilakukan atau ditinggalkan. Hak dibatasi oleh kewajiban, tidak ada hak tanpa kewajiban dan takk ada kewajiban tanpa hak.

e. Macam-macam kewajiban manusia
1.Kewajiban terhadap Tuhan
2.Kewajiban terhadap hidup sendiri(individu)
3.Kewajiban terhadap masyarakat

f. Kewajiban Sebagai Tanggung Jawab
Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak, namun dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka tanggung jawab manusia dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya. Setiap keadaan hidup menentukan kewajiban tertentu. Status dan peranan juga  menentukan kewajiban seseorang.
Ada dua bagian atau dua kewajiban yang berbeda, yang pertama yaitu kewajiban terbatas, adalah kewajiban yang tanggung jawabnya diberlakukan kepada setiap orang, sama, tidak dibeda bedakan. Contohnya undang undang larangan mencuri, membunuh, yang konsekuensinya tentu diberlakukan hukuman atas perbuatan tersebut. Kemudian yang kedua yaitu kewajiban tidak terbatas, adalah kewajiban yang tanggung jawabnya berlaku juga untuk semua orang. Namun tanggung jawab terhadap kewajiban ini nilainya lebih tinggi, sebab dijalankan oleh suara hati, seperti berbuat keadilan dan kebajikan.

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Konsep Dialog dalam Islam

Konsep Dialog dalam Islam

Konsep Dialog dalam Islam

Maka sesungguhnya Islam memiliki konsep dalam berinteraksi dengan budaya-budaya diluar Islam. Islam mempersilahkan siapapun untuk mengemukakan pandangan-pandangan ataupun melakukan tindakan-tindakan budaya yang seperti apapun, asalkan tidak melanggar ketentuan halal haram, pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan), serta prinsip Al Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah dan apa saja yang dicintai Allah) dan Al Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah), dimana ketiga prinsip inilah yang menjadi jati diri dan prinsip umat Islam yang tidak boleh diutak-atik dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain diluar Islam. Sehingga dari ketiga prinsip ini akan lahir sebuah Kebudayaan Islam, dimana kebudayaan Islam ini selalu memiliki satu ciri khusus yang tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa manapun diluar Islam, yakni budaya yang berasaskan Tauhidul `Ibadah Lillahi Wahdah (mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah). Sehingga selama prinsip-prinsip dan asas tersebut tidak dilanggar, maka kita dipersilahkan seluas-luasnya untuk berhubungan ataupun mengambil manfaat dari bangsa-bangsa dan budaya manapun diluar Islam. Sebab segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, baik itu sifatnya ilmu pengetahuan maupun materi (yang selain perkara agama tentunya), itu semua memang diciptakan oleh Allah untuk kita ummat manusia, khususnya kaum muslimin, walaupun berasal dari orang-orang kafir, sebagaimana Allah Ta`ala berfirman dalam surat Al Baqarah (29):

Artinya:”Dialah (Allah), yang telah menciptakan segala yang ada dibumi ini untuk kalian…”

Maka sesungguhnya kedudukan budaya Arab itu sama dengan budaya Persia, Romawi, Melayu, Jawa dan sebagainya dimana budaya-budaya tersebut adalah pihak yang harus siap dikirtik oleh Islam ketika Islam telah masuk ke negeri-negeri tersebut. Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Sebab justru budaya Arab adalah budaya yang paling pertama dikritik dan dikoreksi oleh Islam sebelum budaya-budaya yang lainnya. Maka apa saja yang telah diterangkan oleh Allah dan RasunNya sebagai agama, maka itulah Islam, sementara segala sesuatu yang tidak diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam perkara agama, maka itu bukanlah Islam, meskipun perkara tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer pada masyarakat Arab atau masyarakat Islam yang lainnya. Sebab Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam. Wallahu A`lam

Baca Juga :

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Kondisi Budaya Dunia sebelum dan setelah Islam

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata disegala lini kehidupan. Kehidupan mereka kala itu jauh dari ilmu, karena memang agama terakhir saat itu yaitu nashrani, tidak dijamin oleh Allah Ta`ala kekekalan dan kasliannya seperti Allah Ta`ala menjamin kekekalan dan keaslian Islam, sehingga merekapun menjalani kehidupan didunia ini hanya semata-mata mengikuti naluri dan selera nafsu mereka semata. Oleh sebab itu budaya kehidupan di seluruh negeri saat itu, tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan mambawa wahyu Allah Ta`ala dalam bentuk Al Qur`an dan Assunnah, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi Wasallam. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan Akhlaq manusia agar menciptakan kehidupan manusia yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq manusia sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas. Dalam hal ini Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam bersabda:

“Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia“. [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam ‘Adabul Mufrad’ dan Imam Ahmad. Lihat ‘Silsilah Ash-shahihah 15’]

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab. Ketika itu bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya adalah bangsa yang tenggelam dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah, mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq yang lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang haqiqi. Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Dimulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, khurofat dan sebagainya, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah Ta`ala, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurofat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi itu terus masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masayrakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam. Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Sumber : https://andyouandi.net/

kemakmuran dengan Iman dan Taqwa kepada Allah Ta`ala

kemakmuran dengan Iman dan Taqwa kepada Allah Ta`ala

kemakmuran dengan Iman dan Taqwa kepada Allah Ta`ala

Didalam konsep yang kedua ini, Allah memberitakan kepada kita, bahwa bila penduduk suatu negeri ingin mencapai kemakmuran dalam hidupnya, maka hendaknya ia ta`at kepada Allah Ta`ala, maka Allah akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Dalam hal ini Allah Ta`ala berfirman dalam surat Al A`raaf (96) : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandainya penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka niscaya Allah akan melimpahkan berkah-berkah untuk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannya dari segala arah. Terdapat beberapa penafsiran ulama` terhadap firman Allah yang artinya: “ Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan : “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah” [Tafsir Abi As-Su’ud, 3/253]. Menurut Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah. [At-Tafsirul Kabir, 12/185. Lihat pula, Tafsirul Khazin 2/266 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22]

Demikianlah ketika penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Allah akan lapangkan kekayaan dan kemakmuran padanya, langit dan buminya diberkahi oleh Allah, sehingga hujan yang turun dari langit yang diberkahi, ketika membasahi bumi yang juga diberkahi, akan menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang subur dan segar, serta terpeliharanya hewan ternak dan gembalaan disana. Sehingga keadaan yang demikian itu mendatangkan kemakmuran yang luar biasa bagi penduduk negeri itu dengan sebab beriman dan bertaqwanya mereka.

Silahkan Memilih !

Setelah kita memahami 2 (dua) konsep peningkatan kemakmuran yang diberitakan Allah Ta`ala didalam Al Qur`an. Tentunya kita sebagai mukmin yang berakal akan memilih konsep yang diridhai oleh Allah Ta`ala yakni mencapai kemakmuran dengan melaksanakan keta`atan kepada Allah, bukan dengan kemaksiatan dan kedurhakaan kepadaNya. Sebab memang benar, kemakmuran itu akan bisa tercapai dengan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah, berhubung hal tersebut diberitakan langsung oleh Allah Ta`ala didalam Al Qur`an tentang hal tersebut, namun akibat akhir dari perbuatan itu adalah kebinasaan. Bila tidak kita yang merasakan, maka pasti anak cucu kita nanti akan yang akan merasakan warisan dari perbuatan durhaka yang dilakukan bapak moyangnya tadi, sehingga pada akhirnya anak cucu kita akan mengutuk dan melaknati bapak moyangnya tadi yang saat itu sudah berada di alam kubur, na`udzubillah min dzaalik.

Maka silahkan piilih, jalan mana yang akan kita tempuh untuk mencapai kemakmuran hidup ini. Kalaupun ada orang yang bergelimang dengan maksiat namun hidupnya makmur, bahkan semakin ia bermaksiat dan durhaka kepada Allah malah semakin makmur, maka berhati-hatilah, jangan-jangan itu adalah makar (tipu daya) Allah agar orang itu terus lalai dan lalai dari peringatan Allah hingga akhirnya datang kepadanya azdab yang membinasakan. Karena memang konsep peningkatan kemakmuran model pertama itu sifatnya melalaikan dan membikin orang tambah sombong dengan kedurhakaannya itu hingga akhirnya binasa tanpa sempat memperbaiki amalannya. Sementara kemakmuran yang hakiki dan diridhoi oleh Allah Ta`ala adalah yang dicapai dengan cara beriman dan bertaqwa kepada Allah. Sehingga langit, bumi dan seisi alam ini akan menjadi shahabat baginya, yang akan melimpahkan berkah-berkah dari Allah ta`ala dan mencurahkan kemakmuran dari segala arah bagi penduduk negeri itu. Sebuah kemakmuran yang hakiki, kemakmuran yang akan semakin mendekatkan ia kepada Allah Ta`ala. Wallahu A`lamu Bish Shawaab

Sumber : https://aziritt.net/

Materi Teks Eksplanasi

Materi Teks Eksplanasi

Materi Teks Eksplanasi

Materi Teks Eksplanasi

1. Pengertian Teks Eksplanasi

Teks Eksplanasi adalah teks yang membuktikan atau menjelaskan mengenai proses atau fenomena alam maupun sosial. [Restuti (2013:85)]

2. Tujuan Teks Eksplanasi

Tujuan Penulisan Teks Eksplanasi ialah Untuk menjelaskan proses terciptanya sesuatu yang terjadi secara alamiah, atau proses bekerjanya fenomena alam maupun maupun sosial.

3. Ciri-Ciri Teks Eksplanasi

Suatu teks sanggup dikatakan sebuah teks ekplanasi bila mempunyai ciri – ciri ibarat berikut :

1. Memuat gosip – gosip fakta.
2. Membahas suatu fenomena yang bersifat keilmuan atau ilmu pengetahuan.
3. Bersifat informative dan tidak berusaha mensugesti pembaca untuk mempercayai hal yang dibahas di dalam teks.
4. Memiliki / memakai sequence markers, ibarat pertama, kedua, ketiga, dsb. atau pertama, berikutnya, terakhir.

4. Struktur Teks Ekplanasi

Senang sekali rasanya kali ini sanggup kami bagikan artikel perihal bahan Bahasa Indonesia Teks Eksplanasi (Pengertian, Tujuan, Struktur, dan Contoh)
via : slideshare.net

Teks ekplanasi terdiri dari cuilan – cuilan ibarat di bawah ini :

a. Pernyataan umum / General Statement

Bagian pertama teks ekplanasi ialah general statement atau yang disebut juga dengan pernyataan umum. Bagian ini memberikan topik atau permasalahan yang akan di bahas pada teks ekplanasi yang berupa citra umum mengenai apa dan mengapa suatu fenomena tersebut bisa terjadi. General statement ini harus ditulis semenarik mungkin biar para pembaca bisa tertarik untuk membaca isi teks secara keseluruhan.

b. Deretan Penjelas / Sequence of Explanation

Bagian ini mengandung klarifikasi – klarifikasi mengenai sebuah topik yang akan dibahas secara lebih mendalam. Bagian ini ditulis untuk menjawab pertanyaan how, bagaimana dan urutan lantaran – jawaban dari sebuah fenomena yang terjadi. Bagian ini biasanya ditulis dalam 2 atau 3 paragraf.

c. Penutup / Interpretasi

Bagian terakhir dari teks ekplanasi ialah closing yang mengandung intisari atau kesimpulan dari fenomena yang telah dibahas. Di dalam cuilan ini juga bisa ditambahkan saran atau juga tanggapan penulis mengenai fenomena tersebut.


Sumber:

https://pendidikanmu.com/